Minggu, 16 September 2018

BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang Masalah

Pendidikan merupakan salah satu wahana untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM). Untuk mencapai kualitas SDM yang baik tersebut perlu adanya keterpaduan antar kegiatan guru dengan peserta didik dalam proses pendidikan. Pendidikan mampu membentuk kepribadian, disiplin, pantang menyerah, etika, kreatifitas, dankemandirian. Tercapainya prestasi belajar peserta didik tidak terlepas dari beragam aspek diantaranya minat baca dan motivasi belajar. Oleh karena itu, guru diharapkan mampu megatur, mengarahkan, dan menciptakan suasana yang baik sehingga peserta didik semakin termotivasi belajar.

Begitu pula halnya dengan pendidikan Agama Hindu yang ada di Jakarta untuk mendapatkan pendidikan Agama Hindu di sekolah formal masih belum maksimal hal ini disebabkan jumlah siswa yang beragama Hindu masih sedikit jumlahnya. Dengan demikian pendidikan Agama Hindu untuk anak-anak mulai TK sampai SMA bisa diperoleh salah satunya di Pasraman yang diselenggarakan oleh masyarakat Hindu di bawah binaan Kementrian Agama Republik Indonesia Direktur Jendral Bimbingan Masyarakat Hindu yang bertujuan untuk membentuk dan membangun karakter anak Hindu agar memiliki kemampuan dan pengetahuan dalam bidang Agama Hindu serta berkualitas dan berdaya saing.

Untuk mengisi kekosongan guru agama di sekolah umum maka dibentuk Pasraman yang namanya Pasraman Madina Widya yang mengurus pelajaran agama. Pembelajaran di Pasraman selain di ajarkan pendidikan agama siswa juga mendapat pendidikan keterampilan tambahan melalui kegiatan-kegiatan yang bertema keagamaan misalnya, Dharma Gita (membaca sloka, palawakya dan kidung), Dharma Vidya (cerdas cermat), Dharma Wacana (menyampaikn pesan-pesan dharma), menghafal mantra-mantra suci dan kegiatan lainya.

Dalam kegiatan bertema keagamaan tersebut anak-anak menunjukan bakat mereka dan mampu bersaing dengan teman sebayanya yang berasal dari berbagai wilayah. Dalam setiap kegiatan lomba yang diikuti akan ada yang keluar sebagai juara lomba dan ada yang belum bisa menjadi juara yang artinya mereka harus berlatih lebih giat lagi. Adapun juara-juara tersebut seperti lomba pembaca sloka, menghafal sloka, lomba baca palawakya, lomba cerdas cermat, dharma wacana dan lomba lainnya. Dalam hal ini di setiap perlombaan yang ada memerlukan pembimbing, pembina, serta dukungan dari keluarga dan lingkungan yang memotivasi anak tersebut baik berlatih untuk memahami dan memantapkan kemampuanya sebelum lomba.

Dari kegiatan-kegiatan yang diikuti oleh peserta didik maka orang tua mampu melihat dan mampu mengetahui potensi dan bakat yang dimiliki putra putrinya sehingga nantinya bisa diikut sertakan dalam kegiatan-kegiatan yang bernuansa keagamaan. Contohnya seperti dalam pelaksanaan kegiatan Utsawa Dharma Gita (UDG) Tingkat Nasional, Jambore Tingkat Pasraman Nasional dan kegiatan lainya.Untuk mengikuti kegiatan ini para peserta didik dilatih dan dibina oleh guru agama pada masing-masing pasraman, serta tidak lepas dari peran orang tua dan lingkungan.Dimana peran orang tua atau keluarga sangat besar dalam memotivasi dan membimbing anaknya untuk mencapai tujuan.

Lembaga pendidikan berperan memberikan pemahaman mengenai perlombaan dan bekal serta informasi pendukung. Dengan berperannya lembaga pendidikan seperti pasraman maka, sebagai penggeraknya adalah guru disekolah atau pasraman. Guru berperan memberikan pemahaman lebih kepada siswa mengenai perlombaan yang akan diikuti oleh peserta didiknya dimana, guru memotivasi, membimbing dan memfasilitasi peserta didik dengan memberikan pemahaman mengenai materi perlombaan.

Pasraman Mustika Dharma Cijantung adalah salah satu wadah yang mempunyai peran penting dalam melestarikan adat budaya yang telah diwariskan oleh leluhur kepada generasi muda hindu. Misalnya memberikan pemahaman tentang pentingnya mempelajari Dharmagita, pesantian, tari, yoga dan mejejaitan. Dengan mengikuti minimal satu ekstrakurikuler peserta didik  dapat menyalurkan minat dan bakatnya di luar jam sekolah.

Sebab didalam organisasi atau ekstrakurikuler yang diikuti peserta didik  tersebut, banyak memberi pengetahuan tentang ilmu dan pengalaman dalam organisasi, rasa bertanggung jawab kepada tugasnya, disiplin dalam melaksanakan kewajiban dikegiatan itu, sportif dalam berkompetisi, menanamkan jiwa berprestasi, kreatif dalam menyumbangkan ide demi kemajuan ekstrakurikuler dan sekolah/pasraman.

Salah satu kegiatan dalam kegiatan ekstrakurikuler ialah pesantian. Kegiatan ini bermanfaat untuk mengembangkan kemampuan peserta didik dalam berkarya, mengajarkan kedisiplinan, tanggungjawab serta kerjasama. Dengan kegiatan pesantian diharapkan dapat memotivasi dan meningkatkan minat pesert didik dalam belajar seni dengan baik. Setiap pasraman memiliki kondisi yang berbeda-beda, mulai dari keterbatasan tenaga pengajar, ketersediaan alat music serta minat siswa dalam mengikuti kegiatan ekstrakurikuler pesantian.

Setiap orang tua mempunyai harapan agar putra putri mereka kelak memiliki prestasi dalam mengikuti proses pembelajaran. Hal ini bisa di lihat ketika orang tua berusaha mencarikan sekolah yang terbaik  untuk anaknya, sekolah yang dipilih pasti memiliki kelebihan dari segi tenaga pendidik, sarana dan prasarana yang mendukung proses pembelajaran. Harapanya sang anak dapat mengikuti proses pembelajaran dan mendapat hasil sesuai dengan yang mereka harapkan.

Untuk mencapai prestasi tersebut banyak pihak yang turut berperan untuk suksesnya proses pembelajaran. Dalam ajaran Agama Hindu ada empat guru yang berperan untuk membimbing siswa dalam proses pembelajaran yang disebut Catur Guru. Catur Guru memiliki pengertian yakni, empat guru yang harus kita hormati dalam kehidupan sehari-hari. Keempatnya yakni Guru Swadhyaya (Tuhan Yang Maha Esa), Guru Rupaka (orang tua), Guru Pengajian (guru di sekolah) dan Guru Wisesa (Pemerintah). Ajaran Catur Guru mengajarkan kita etika dan budi pekerti yang luhur dengan demikian ajaran Catur Guru bisa dijadikan sebagai tuntunan hidup umat Hindu agar selalu berbakti kepada guru.

Pasraman Mustika Dharma Cijantung maupun disekolah peran guru pengajian (khususnya guru Agama Hindu) sangat besar. Guru memberikan bimbingan serta arahan kepada peserta didiknya bagaimana cara menyanyikan sloka, palawakya, menyampaikan dharma wacana, dan teknik menjawab Dharma Vidya. Peran guru tidak hanya memberikan pelajaran kepada peserta didiknya tetapi guru juga harus selalu memotivasi anak didiknya supaya mereka selalu bersemangat untuk mengikuti latihan.

Guru pada hakekatnya harus memiliki empat kompetensi diantaranya, kompetensi padagogik adalah kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran peserta didik. Kompetensi yang merupakan kompetensi khas, yang membedakan guru dengan profesi lainnya karena didalamnya memuat tentang hakekat dan peran guru yang hakiki. Kompetensi profesional yakni guru memiliki kemampuan yang memumouni untuk mengajar dan menguasai kelas serta kemampuan masing-masing peserta didiknya. Kompetensi sosial mampu bersosialisasi dengan masyarakat serta kopetensi keperibadian guru harus memiliki pribadi yang matang dan dewasa dalam mejalankan tugas dan kewajiban seorang guru.

Selain kompetensi,sebagai seorang guru juga memiliki tugas atau peran diantaranya: motivator adalah peran guru sebagai pemberi motivasi, semangat dan arahan positif dengan tujuan peserta didiknya mampu  mengatasi kesulitan belajar sehingga bisa menggapai prestasi. Guru sebagai fasilitator, peran guru adalah sebagai orang yang memfasilitasi kepentingan peserta didiknya sehingga tercapinya tujuan pembelajaran. Guru harus dapat mengajak dan memberikan stimulus sehingga peserta didik mampu mengoptimalkan kecerdasan dan mengasah kecakapanya secara bebas tetapi tetap bertanggung jawab. Serta gutu sebagai evaluator adalah peran seorang guru untuk mengevaluasi atau menilai sejauh mana kemampuan peserta didiknya sehingga dari hasil evaluasi tersebut mampu diketahui kekurangan serta kelebihan setiap peserta didiknya.

Peranan guru disekolah sangat diperlukan terlebih bagaimana guru mampu memotivasi, mengembangkan, memupuk bakat dan minat peserta didiknya.Selain guru dan orang tua  ada pula peran pelatih atau instruktur dimana mereka adalah sebagai praktisi di lapangan yang memiliki kemampuan serta kompetensi lebih di bidang pengetahuan keterampilan Agama Hindu. Peran pelatih sangat menentukan arah dan tujuan para peserta perlombaan. Pelatih menjadi penting karena keahlian dan pengalamanya akan menjadi informasi bagi peserta.

Pelatih juga memiliki beberapa tugas pokok diantaranya mengadakan pemanduan supaya peserta unggul.Menyusun strategi pelatihan sehingga mudah di mengerti. Mengadakan evaluasi setelah mengadakan latihan. Selalu menigkatkan pengetahuan, baik secara teori maupun praktek kepada peserta didik dan selalu memberi motivasi sehingga tercapainya tujuan.Demikian peran pelatih yang tidak mudah dilakukan dalam melakukan pembinaan memberikan pelatihan sebelum peserta didiknya mengikuti perlombaan dengan tujuan mendapatkan hasil yang maksimal.

Demikian banyaknya pihak yang berperan dalam pendidikan keterampilan Agama Hindu baik guru di sekolah maupun guru di pasraman, pelatih atau pembina dan pemerintah serta orang tua. Namun peneliti hanya akan membahas ekstrakurikuler dapat mengantarkan peserta didik untuk memperoleh prestasi dalam keterampilan agama. Ekstrakurikuler pesantian memiliki manfaat yang sangat penting bagi diri sendiri untuk menambah keterampilan dan manfaat dalam melakukan kegiatan seperti melantunkan kidung warga sari disetiap piodalan atau hari besar keagamaan. Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan diatas, peneliti tergugah mengambil judul penelitian Pelaksanaan Ekstrakurikuler Pesantian Dalam Upaya Meningkatkan Prestasi  Siswa (Studi di Pasraman Mustika Dharma Cijantung).

Dari latar belakang masalah diatas penulis membatasi penelitian ini hanya pada ekstrakurikuler dapat mengantarkan peserta didik untuk memperoleh prestasi dalam keterampilan agama khususnya pada anak-anak berprestasi pada UDG Jakarta yaitu Pasraman Mutika Dharma Cijantung.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pendidikan baik sengaja maupun tidak, mampu membentuk kepribadian manusia yang matang dan berwibawa secara lahir dan batin, menyangkut sradha dan bakti, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan bertanggung jawab.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka dapat dirumuskan fokus penelitian sebagai berikut:


a. Apakah pelaksanaan ekstrakurikuler Pesantian di Pasraman Mustika Dharma Cijantung dapat mendorong prestasi siswa?

b. Bagaimana minat siswa dalam mengikuti kegiatan ekstrakurikuler Pesantian di Pasraman Mustika Dharma Cijantung?

1.3 Tujuan Penelitian

Tujuanpenelitian ini terkait dengan Pelaksanaan Ekstrakurikuler Dalam Upaya  Meningkatkan Presatsi Siswa Pasraman Mustika Dharma Cijantung.

1.3.1 Tujuan Umum
Secara umum penelitian ini bertujuan untuk menguraikan perihal ekstrakurikuler pesantian dalam meningkatkan prestasi siswa dan dapat melestarikan budaya agama Hindu.

1.3.2  Tujuan Khusus

Tujuan penelitian ini mengacu pada masalah yang telah disebutkan diatas yaitu:
Untuk mengetahui pelaksanaan ekstrakurikuler Pesantian di Pasraman Mustika Dharma Cijantung dapat mendorong prestasi siswa?

Untuk Mengetahui bagaimana minat siswa dalam mengikuti kegiatan ekstrakurikuler Pesantian di Pasraman Mustika Dharma Cijantung.

1.4 Manfaat Penelitian

Suatu penelitian yang dilakukan hendaknya memiliki nilai manfaat yang berguna bagi kehidupan masyarakat maupun bagi pengembangan ilmu itu sendiri. Demikian pula dengan penelitian ini diharapkan dapat memberikan suatu manfaat, khususnya bagi masyarakat dan perkembangan pengetahuan tentang Agama Hindu. Secara garis besar, kegunaan penelitian ini terbagi dalam dua aspek yaitu :

1.4.1 Manfaat Teoritis

Secara teoritis hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan refrensi dalam menjelaskan pelaksanaan ekstrakurikuler dalam upaya meningkatkan prestasi siswa.

1.4.2 Manfaat Praktis

Peneliti ini didasari oleh keingintahuan terhadap Apakah pelaksanaan ekstrakurikuler Pesantian di Pasraman Mustika Dharma Cijantung terlaksana atau berjalan dengan baik dan Bagaimana minat siswa dalam mengikuti kegiatan ekstrakurikuler Pesantian di Pasraman Mustika Dharma Cijantung.
Penulisan Daftar Pustaka
DAFTAR PUSTAKA

Apa yang dimaksud dengan Daftar Pustaka? Sebelum masuk lebih jau membahas mengenai hal ini. Maka akan saya cerminka sesuatu terlebih dahulu. Pernah ada seorang wanita cantik dan dikenal banyak orang, lantaran kecantikannya. Tetapi hampir semua dari yang sepintas melihatnya cantik pasti tidak memahami mengapa wanita itu cantik.

Nah karena itulah sangat penting untuk memahami literatur atau peramban suatu peristiwa atau sumbernya dari mana. Hal semacam inilah mengapa penting adanya yang namanya DAFTAR PUSTAKA suatu karya.

Daftar pusatakan dapat dimengerti secara singkat ialah literatur atau sumber suatu karya, atau suatu rujukan karya tulis yang dijadikan pedoman oleh seorang penulis atau peneliti dalam merekap hasil penelitiannya. Daftar pustakan pada dasarnya sering dijumpai di bagian akhir suatu tulisan atau sutu buku dan karya ilmia.

Macam-macam karya ilmiah yang bisa ditemukan daftar pustakanya ialah:

1. Karya Ilmia berupa Skripsi
2. Karya Ilmia berupa Paper
3. Karya Ilmia berupa Buku
4. Karya Ilmia berupa Jurnal


Sabtu, 07 Juni 2014

Mata Najwa
Mata Najwa on Stage - Penebar Inspirasi

Pemimpin adalah orang yang tidak hanya punya visi, tapi mampu menggerakkan banyak pribadi. Seorang pemimpin adalah mereka yang mampu membangkitkan semangat, menjawab persoalan dan mampu menghidupkan harapan.

Mata Najwa On Stage kali ini berlangsung di Auditorium Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS).

Delapan ribu penonton memadati gedung, demi menyaksikan acara Mata Najwa yang mengundang lima tokoh penebar inspirasi. Mantan Wakil Presiden, Jusuf Kalla, Gubernur DKI Jakarta, joko Widodo, serta tokoh pendidikan Anies Baswedan. Selain itu ada Ketua Komisi Pemberantasan korupsi, Abraham Samad, dan Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo.


Mata Najwa on Stage - Penebar Inspirasi Part 1



Mata Najwa on Stage - Penebar Inspirasi Part 2



Mata Najwa on Stage - Penebar Inspirasi Part 3


Mata Najwa on Stage - Penebar Inspirasi Part 4


Mata Najwa on Stage - Penebar Inspirasi Part 5


Mata Najwa on Stage - Penebar Inspirasi Part 6


Senin, 07 Oktober 2013

BAB I PENDAHULUAN

      1.1  LATAR BELAKANG
Dalam suatu pembelajaran dibutuhkan aspek yang sangat penting yaitu strategi pengajaran dan pembelajaran. Guru perlu bertindak sebagai fasilitator, bersikap terbuka, imaginatif, kreatif, inovatif dan inventif. 

Guru hendaklah memotivasi murid supaya senantiasa terus mencoba, walaupun menemui kegagalan. Dalam penyediaan projek, murid diberi kebebasan merangka dan membuat projek berdasarkan pengetahuan, kemahiran dan pengalaman mereka daripada berbagai bidang ilmu yang lain. Selain itu, petunjuk cara juga mesti dilakukan di mana guru perlu mendemonstrasi kepada pelajar cara yang betul dan selamat dalam penggunaan berbagai alat dan bahan untuk mereka praktikkan. 
Satu kumpulan dinamik yaitu pembagian kelas kepada beberapa kumpulan kecil sebaiknya dilaksanakan di dalam kelas selain sumbang saran di mana satu perbincangan secara intensif untuk  penjanaan idea atau mencari idea dilakukan dengan menggalakkan penglibatan semua ahli dalam kelas dan seterusnya ceramah boleh juga diaplikasikan dalam subjek ini untuk memberi maklumat dan gambaran yang terbaik kepada pelajar. Teori belajar harus dibina di mana idea dan pendapat pelajar mesti dihargai, aktivitas dalam kelas perlu menjabarkan pelajar, guru menimbulkan permasalahan yang berkaitan dengan pembelajaran kepada pelajar, pengajaran dan pembelajaran di bina berdasarkan konsep asas dan utama serta pengajaran dan pembelajaran di nilai dalam konteks pengajaran.
Guru harus sadar tentang strategi pengajarannya dan perlu berfikir tentang cara untuk meningkatkan proses pengajarannya. Antara masalah yang telah dikenal pasti ialah pelajar sukar mengeluarkan ide sendiri dan terlalu bergantung kepada guru semata-mata di samping kemahiran belajar di kalangan pelajar yang rendah terutamanya dalam menyelesaikan masalah. Dalam pembelajaran terdapat empat teori belajar yang harus dikuasi oleh seorang guru, adapun teori-teori tersebut adalah teori Humanistik, teori Behavioristik, dan teori Kognitif.
Berdasarkan latar belakang pemikiran tersebut, maka penyusun akan menyusun Makalah yang berjudul Menganalisis Penerapan Teori-Teori Belajar dalam  Pembelajaran Bidang Studi Agama Hindu”.

1.2  PEMBATASAN MASALAH
Pembatasan masalah  dilakukan guna mempersempit pembahasan dalam makalah ini. Salah satu pembatasan masalah yang penulis susun adalah mengenai penerapan teori-teori belajar dalam pembelajaran khususnya pada bidang studi Agama Hindu.  

1.3  RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang diatas dapat kami rumuskan permasalahan yang dibahas dalam makalah kami, sebagai berikut:
1.1.1        Apa sajakah teori-teori belajar dalam pembelajaran?
1.1.2        Bagamana penerapan teori-teori belajar dalam pembelajaran bidang studi agama Hindu?

1.4  TUJUAN
Berkaitan dengan judul dalam latar belakang penyusunan makalah, tujuan pembuatannya antara lain sebagai berikut:
1.1.3        Memahami secara mendalam mengenai teori-teori belajar dalam pembelajaran.
1.1.4        Memahami peranan Supervisi Pembelajaran dalam meningkatkan mutu dan kualitas hasil belajar.

1.5  METODE PENULISAN
Berdasarkan permasalahn yang diambil maka metode penulisan yang kami gunakan adalah Kajian Pustaka.



BAB II
PEMBAHASAN

2.1     TEORI-TEORI BELAJAR
Seorang guru harus mengetahui dan memahami serta menerapkan teori-teori belajar dalam pelaksanaan pembelajaran yang disesuaikan dengan keadaan dari siswa. Dalam teori-teori pembelajaran memiliki arti penting yang pokok, yaitu pertama, teori pembelajaran menyediakan kosakata dan kerangka konseptual yang bisa guru gunakan untuk menginterpretasikkan contoh-contoh pembelajaran yang kita amati. Kedua, teori pembelajaran menuntun kita ke mana harus mencari solusi atas persoalan-persoalan praktis. 
Dengan kata lain, Teori tidak memberikan solusi tetapi teori mengarahkan kita pada pemecahan solusinya. Dari kedua arti penting itu, dapat kita cermati dari para tokoh –tokoh teori pembelajaran, seperti Guthrie yang mengarahkan bagaimana perlunya mempraktikkan respon yang hendak dipelajari dalam kondisi tertentu dimana respon tersebut akan digunakan, kemudian Skinner yang memberikan saran agar tahu hal apa yang menguatkan tindakan, dollard dan miller yang mengingatkan kita agar mewaspadai dorongan yang mungkin dipelajari dalam sebuah situasi, lalu Wertheimer dan kohler yang mengemukakan pentingnya rancangan situasi pembelajaran, 
Lewis yang menunjukkan agar kita mengkonstruksi ruang hidup siswa, kemudian Piaget dan Gagne menekankan bagaimana pembelajaran pada saat ini berkembang dari pembelajaran pada waktu sebelumnya serta Tolma, Hull, Estes dan Anderson yang menawarkan banyak usulan serupa dengan bentuk-bentuk yang lebih teknis. Dengan demikian, dari berbegai teori-teori yang ada telah memberikan pemahaman kita terhadap situasi-situasi pembelajaran yang dilaksanakan dan juga menemukan solusi pembelajaran yang dihadapi.
Adapun teori-teori belajar tersebut adalah sebagai berikut:
2.1.1        Teori Humanistik
Dalam teori belajar humanistik  proses belajar harus berhulu dan bermuara  pada manusia itu sendiri. Meskipun teori ini sangat menekankan pentingya isi dari proses belajar, dalam kenyataan teori ini lebih banyak berbicara tentang pendidikan dan proses belajar dalam bentuknya yang paling ideal. Dengan  kata lain, teori ini lebih tertarik pada ide belajar dalam bentuknya yang paling ideal dari pada belajar seperti apa adanya, seperti apa yang bisa kita amati dalam dunia keseharian. Teori apapun dapat dimanfaatkan asal tujuan untuk “Memanusiakan Manusia” (mencapai aktualisasi diri dan sebagainya) dapat tercapai.
Dalam teori belajar humanistik, belajar dianggap berhasil jika siswa memahami lingkungannya dan dirinya sendiri. Siswa dalam proses belajarnya harus berusaha agar lambat laun ia mampu mencapai aktualisasi diri dengan sebaik-baiknya. Teori belajar ini berusaha memahami perilaku belajar dari sudut pandang pelakunya, bukan dari sudut pandang pengamatnya.
Tujuan utama para guru adalah membantu siswa untuk mengembangkan dirinya, yaitu membantu masing-masing individu untuk mengenal diri mereka sendiri sebagai manusia yang unik dan membantu dalam mewujudkan potensi-potensi yang ada dalam diri mereka. Teori Belajar Humanistik adalah suatu teori dalam pembelajaran yang mengedepankan bagaimana memanusiakan manusia serta siswa mampu mengembangkan potensi dirinya.
2.1.2        Teori Behavioristik
Teori behavioristik adalah sebuah teori yang dicetuskan oleh Gage dan Berliner tentang perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman. Teori ini lalu berkembang menjadi aliran psikologi belajar yang berpengaruh terhadap arah pengembangan teori dan praktik pendidikan dan pembelajaran yang dikenal sebagai aliran behavioristik. Aliran ini menekankan pada terbentuknya perilaku yang tampak sebagai hasil belajar.
Menurut teori behavioristik, belajar adalah perubahan tingkah laku sebagai akibat dari adanya interaksi antara stimulus dan respon. Seseorang dianggap telah belajar sesuatu apabila ia mampu menunjukkan perubahan tingkah laku. Dengan kata lain, belajar merupakan bentuk perubahan yang dialami siswa dalam hal kemampuannya untuk bertingkah laku dengan cara yang baru sebagai hasil interaksi antara stimulus dan respon.
Teori behavioristik dengan model hubungan stimulus-responnya, mendudukkan orang yang belajar sebagai individu yang pasif. Respon atau perilaku tertentu dengan menggunakan metode pelatihan atau pembiasaan semata. Munculnya perilaku akan semakin kuat bila diberikan penguatan dan akan menghilang bila dikenai hukuman. Behaviorisme merupakan salah aliran psikologi yang memandang individu hanya dari sisi fenomena jasmaniah, dan mengabaikan aspek – aspek mental. Dengan kata lain, behaviorisme tidak mengakui adanya kecerdasan, bakat, minat dan perasaan individu dalam suatu belajar. Peristiwa belajar semata-mata melatih refleks-refleks sedemikian rupa sehingga menjadi kebiasaan yang dikuasai individu.
2.1.3        Teori Kognitif
Teori Kognitif, dikembangkan oleh Jean Piaget, seorang psikolog Swiss yang hidup tahun 1896-1980. Teorinya memberikan banyak konsep utama dalam lapangan psikolog perkembangan dan berpengaruh terhadap perkembangan konsep kecerdasan, yang bagi Piaget, berarti kemampuan untuk secara lebih tepat merepresentasikan dunia dan melakukan operasi logis dalam representasi konsep yang berdasar pada kenyataan. Teori ini membahas munculnya dan diperolehnya schemata—skema tentang bagaimana seseorang mempersepsi lingkungannya— dalam tahapan-tahapan perkembangan, saat seseorang memperoleh cara baru dalam merepresentasikan informasi secara mental. Teori ini digolongkan ke dalam konstruktivisme, yang berarti, tidak seperti teori nativisme (yang menggambarkan perkembangan kognitif sebagai pemunculan pengetahuan dan kemampuan bawaan), teori ini berpendapat bahwa kita membangun kemampuan kognitif kita melalui tindakan yang termotivasi dengan sendirinya terhadap lingkungan.
Hakekat belajar menurut teori kognitif dijelaskan sebagai suatu aktifitas belajar yang berkaitan dengan penataan informasi, reorganisasi perseptual, dan proses internal. Kegiatan pembelajaran yang berpijak pada teori belajar kognitif ini sudah banyak digunakan. Dalam merumuskan tujuan pembelajaran, mengembangkan strategi dan tujuan pembelajaran, tidak lagi mekanistik sebagaimana dilakukan dalam pendekatan behavioristik. Kebebasan dan keterlibatan siswa secara aktif dalam proses belajar amat diperhitungkan, agar belajar lebih bermakna bagi siswa.
Menurut teori ini, belajar adalah perubahan persepsi dan pemahaman. Perubahan persepsi dan pemahaman tidak selalu berbentuk perubahan tingkah laku yang bisa diamati. Asumsi dasar teori ini adalah setiap orang telah mempunyai pengalaman dan pengetahuan dalam dirinya. Pengalaman dan pengetahuan ini tertata dalam bentuk struktur kognitif. Menurut teori ini proses belajar akan berjalan baik bila materi pelajaran yang baru beradaptasi secara klop dengan struktur kognitif yang telah dimiliki oleh siswa.

2.2     PENERAPAN TEORI-TEORI BELAJAR DALAM PEMBELAJARAN BIDANG STUDI AGAMA HINDU
 Setelah memahami dan mengerti tentang teori-teori belajar dalam pembelajaran khususnya pada mata pelajaran agama Hindu, seorang pendidik harus mampu menerapkan teori-teori tersebut di kelas. Adapun penerepan teori-teori tersebut adalah sebagai berikut:
2.2.1        Penerapan Teori Humanistik
Aplikasi teori humanistik lebih menunjuk pada ruh atau spirit selama proses pembelajaran yang mewarnai metode-metode yang diterapkan. Peran guru dalam pembelajaran humanistik adalah menjadi fasilitator bagi para siswa sedangkan guru memberikan motivasi, kesadaran mengenai makna belajar dalam kehidupan siswa. Guru memfasilitasi pengalaman belajar kepada siswa dan mendampingi siswa untuk memperoleh tujuan pembelajaran.
Siswa berperan sebagai pelaku utama (student center) yang memaknai proses pengalaman belajarnya sendiri. Diharapkan siswa memahami potensi diri , mengembangkan potensi dirinya secara positif dan meminimalkan potensi diri yang bersifat negatif. Pembelajaran berdasarkan teori humanistik ini cocok untuk diterapkan. Keberhasilan aplikasi ini adalah siswa merasa senang bergairah, berinisiatif dalam belajar dan terjaadi perubahan pola pikir, perilaku dan sikap atas kemauan sendiri.
Siswa diharapkan menjadi manusia yang bebas, berani, tidak terikat oleh pendapat orang lain dan mengatur pribadinya sendiri secara bertanggungjawab tanpa mengurangi hak-hak orang lain atau melanggar aturan , norma , disiplin atau etika yang berlaku.
Bila diaplikasikan kedalam mata pelajaran agama Hindu, guru hanya sebagia fasilitataor siswanya, sedangkan siswa tituntut untuk menemukan kasus-kasus yang terjadi dalam siswa beragama dimasyarakat,kemudian dalam proses belajar mengajar guru hanya sebagai penunjuk arah dan memberikan jalan, karena pada dasarnya pelajaran agama tidak bersifat teoritis. Dengan hal itu guru hanya sebagi matifator siswa biar semakin mantap mereka dalam beragama.
2.2.2        Penerapan Teori Behavioristik
Penerapan teori behavioristik dalam kegiatan pembelajaran tergantung dari beberapa hal seperti: tujuan pembelajaran, sifat materi pelajaran, karakteristik siswa, media dan fasilitas pembelajaran yang tersedia. Pembelajaran yang dirancang dan berpijak pada teori behvioristik memandang bahwa pengetahuan adalah obyektif, pasti, tetap, tidak berubah. Pengetahuan telah terstruktur dengan rapi, sehingga belajar adalah perolehan pengetahuan, sedangkan mengajar adalah memindahkan pengetahuan (transfer of knowledge)ke orang yang belajar atau siswa. Fungsi mind atau pikiran adalah untuk menjiplak struktur pengetahuan yag sudah ada melalui proses berpikir yang dapat dianalisis dan dipilah, sehingga makna yang dihasilkan dari proses berpikir seperti ini ditentukan oleh karakteristik struktur pengetahuan tersebut. Siswa diharapkan akan memiliki pemahaman yang sama terhadap pengetahuan yang diajarkan. Artinya, apa yang dipahami oleh pengajar atau guru itulah yang harus dipahami oleh murid (Degeng, 2006).
Prosedur-prosedur pengendalian atau perbaikan tingkah laku yang dapat dilakukan oleh tenaga pendidik antara lain:
a.       Memperkuat Tingkah Laku Bersaing
Dalam usaha merubah tingkah laku yang tak diinginkan diadakan penguatan tingkah laku yang diinginkan dengan mengadakan kerjasama, membaca dan bekerja di satu meja untuk mengatasi kelakuan-kelakuan menentang, melamun, dan hilir mudik. Sesudah menerapkan aturan-aturan kelas kepada siswa, guru melupakan atau mengabaikan tingkah laku siswa yang mengacau dan memuji tingkah laku siswa yang memberi kesempatan guru untuk mengajar. Dalam beberapa waktu, social reinforcement untuk tingkah laku yang tepat mengurangi tingkah laku yang tidak diinginkan.
b.      Ekstingsi
Ekstingsi ialah proses di mana suatu operant yang telah terbentuk tidak mendapat reinforcement lagi. Ekstingsi dilakukan dengan membuat/meniadakan peristiwa-peristiwa penguat tingkah laku. Ekstingsi dapat dipakai bersama-sama dengan metode lain seperti “modelling dan social reinforcement”. Misalnya, Ana adalah salah seorang siswi kelas tiga dia selalu mengacungkan tangan ketika guru melontarkan pertanyaan kepada para siswa untuk menjawab pertanyaan. Tetapi guru tidak memberikan perhatian pada Ana yang ingin menjawab pertanyaan gurunya tersebut. Suatu ketika Ana tidak mau lagi mengacungkan tangan ketika guru melontarkan pertanyaan para siswa untuk menjawab pertanyannya meskipun ia bisa menjawabnya.
Guru-guru sering mengalami kesulitan dalam mengadakan ekstingsi karena mereka harus belajar mengabaikan “sekolahsbehaviors” tertentu. Tentu saja ada jenis-jenis tingkah laku yang tidak dapat diabaikan oleh guru-guru terutama tingkah laku yang menyinggung perasaan murid-murid. Ekstingsi berlangsung terutama jika reinforcement adalah perhatian. Apabila murid memperhatikan ke sana ke mari, maka perubahan interaksi guru murid akan menghentikan tingkah laku murid tersebut.
c.       Satiasi
Satiasi adalah suatu prosedur menyuruh seseorang melakukan perbuatan berulang-ulang sehingga ia menjadi lelah atau jera. Contoh: seorang ayah yang memergoki anak kecilnya merokok menyuruh anak merokok sampai habis satu pak sehingga anak itu bosan. Krumboltz dan Krumboltz (1972) menyatakan jika tingkah laku yang diulang berbeda dengan tingkah laku yang tidak diinginkan maka satiasi tidak tepat. Yang tepat adalah menerapkan metode disiplin seperti menulis 100 kali. Guru sebaiknya mencoba memperkuat tingkah laku yang tepat untuk menggantikan tingkah laku yang tidak diinginkan.
Beberapa tingkah laku dapat dikendalikan oleh perubahan kondisi stimuli yang mempengaruhi tingkah laku itu. Jika murid terganggu oleh suara gaduh di luar kelas, ketukan jendela dapat menghentikan gangguan itu. Jika suatu tugas yang sulit mengecewakan murid, maka guru dapat mengganti dengan tugas yang kurang begitu sulit. Jika di kelas ada dua orang murid yang termenung saja, guru dapat menghampiri atau duduk di dekat mereka.
d.      Hukuman
Untuk memperbaiki tingkah laku, hukuman hendaknya diterapkan di kelas dengan bijaksana. Hukuman dapat mengatasi tingkah laku yang tak diinginkan dalam waktu singkat, untuk itu perlu disertai dengan reinforcement. Hukuman menunjukkan apa yang tak boleh dilakukan murid, sedangkan reward menunjukkan apa yang mesti dilakukan oleh murid.
Bukti menunjukkan, bahwa hukuman atas kelakuan murid yang tak pantas lebih efektif daripada tidak menghukum.
Ada dua bentuk hukuman:
·         Pemberian stimulus derita, sekolahsalnya: bentakan, cemoohan, atau ancaman.
·         Pembatalan perlakuan positif, sekolahsalnya: mengambil kembali suatu mainan atau mencegah anak untuk bermain-main bersama teman-temannya.
Harus kita ingat dalam memberikan hukuman, bahwa hukuman sering tidak disetujui oleh kelompok teman sebaya. Sia-sialah guru menghukum seorang anak jika teman–temannya kelihatan tidak setuju terhadap hukuman itu. Hukuman hendaknya dilaksanakan Iangsung, secara kalem, disertai reinforcement dan konsisten.
Dalam penerapan teori behavioristik ini guru lebih berperan aktif dalam kelas, karena semua tindakan dan perintah yang diperintah guru akan di tiru oleh siswanya. Misalnya dalam ajaran Catur Guru, yang pertama adalah guru Swadiaya yaitu Sang Hyang Widhi, guru mengajarkan sembahyang tiga kali sehari kepada siswa. Yang kedua adalah guru Rupaka yaitu menghormati orang tua, guru mengajarkan bagaimana sepatutnya bertingkah laku kepada orang tua, contohnya berkata yang sopan kepada bapak dan ibuk di rumah. Ketiga adalah guru Pengajian yaitu menghormati guru di sekolah, dengan cara mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru, mengucapkan salam saat bertemu dengan guru. Yang terakhir adalah guru Wisesa yaitu menghormati pemerintah, dengan cara melaksanakan peraturan-peraturan yang ditetapkan oleh pemerintah, contohnya wajib belajar 12 (dua belas) tahun.
2.2.3        Penerapan Teori Kognitif
Dalam penerapan teori belajar kognitif ini kita mengambil salah satu tokoh yaitu David P. Ausubel. Teori belajar Ausubel menitikberatkan  pada bagaimana seseorang memperoleh pengetahuannya. Menurut Ausubel terdapat  dua jenis belajar yaitu Belajar Hafalan (Rote-Learning) dan Belajar Bermakna (Meaningful-Learning).
a.       Belajar Hapalan
Materi dalam pelajaran Agama Hindu bukanlah pengetahuan yang terpisah-pisah namun merupakan satu kesatuan, sehingga pengetahuan yang satu dapat berkait dengan pengetahuan yang lain. Seorang anak tidak akan mengerti tentang siapa yang menciptakan dirinya. Ia harus tahu bahwa yang menciptakan dirinya itu adalah Tuhan. Dan Tuhan lah yang menciptaan semua isi yang ada di alam semesta ini. Seorang anak kecil juga harus tahu bahwa Tri Kaya Parisudha merupakan pedoman hidup dalam ajarang agama Hindu. Sering terjadi kesalahan, anak kecil mengatakan bahwa orang tua lah yang menciptakan dirinya karena orang tua lah yang melahirkan dirinya. Kesalahan seperti inilah yang akan membuat anak tersebut akan selalu menyebut orang tuanya yang menciptakannya. Hal yang lebih parah akan terjadi jika ia tidak paham tentang pedoman hidup dalam ajaran agama Hindu.
b.   Belajar Bermakna
Agar proses mengingat tentang hubungan karmaphala dengan punarbhawa dapat bermakna, maka proses mengingat harus dikaitkan dengan pengetahuan yang sudah dimiliki. Misalnya saja jika orang yang karmanya baik maka ia akan moksa dan jika karmanya ia buruk maka ia akan terlahir kembali atau mengalami punarbhawa. Tugas guru adalah  membantu memfasilitasi siswa sehingga hubungan karmaphala dengan punarbhawa tersebut dapat dikaitkan dengan pengetahuan yang sudah dimilikinya. Jika seorang siswa tidak dapat mengaitkan antara pengetahuan yang baru dengan pengetahuan yang sudah dimiliki siswa, maka proses pembelajarannya disebut dengan belajar yang tidak bermakna (rote learning).
Itulah inti dari belajar bermakna (meaningful learning) yang telah digagas David P Ausubel.  Di samping itu, seorang guru dituntut untuk mengecek, mengingatkan kembali ataupun memperbaiki pengetahuan prasyarat siswanya sebelum ia memulai membahas topik baru, sehingga pengetahuan yang baru tersebut dapat berkait dengan pengetahuan yang lama yang lebih dikenal sebagai belajar bermakna tersebut.


BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN

3.1  KESIMPULAN
Teori-teori belajar dalam pembelajaran yaitu teori Humanistik dimana teori ini mengajarkan seorang guru bertindak sebagai fasilitator dalam proses belajar mengajar. Teori yang kedua adalah teori Behavioristik dimana seorang guru harus mampu mengubah perilaku atau tingkah laku siswa dengan guru sebagai panutannya. Yang ketiga yaitu teori Kognitif disini seorang guru harus lebih sering mengulang pelajaran yang telah disampaikan pada pertemuan yang sebelumnya, agar halafan siswa bisa terpancing lagi sehingga ketika guru melanjutan materi yang berikutnya siswa mampu untuk menghubungkan dengan materi yang sebelumnya diajarkan.

3.2  SARAN
Setelah membaca Makalah ini di harapkan pembaca bisa lebih memahami sekaligus menerapkan peranan teori-teori belajar dalam pembelajaran khususnya dalam bidang studi agama Hindu.





Empat Pilar Kebangsaan
Menganalisis Korelasi Empat Pilar Berbangsa dan Bernegara 
Dengan Kekawin Ramayana III.63

BAB 1. PENDAHULUAN


1. Latar Belakang

            Indonesia seperti yang telah diketahui bersama, merupakan negara yang tersusun atas gugusan pulau - pulau. Keberagaman dan kemajemukan budaya, suku,  ras serta bahasa dan lainnya sangatlah bermacacm-macam. Sadar akan hal tersebut maka sebagai anak bangsa kita perlu senantiasa menjunjung tinggi nilai-nilai positif yang terkadung di dalam susunan ketatanegaraan salah satunya yakni “Empat Pilar Berbagsa Dan Bernegara”.

Taufiq Kiemas (1942-2013), siapa yang tidak menegenalnya beliaulah yang mencetuskan konsep empat pilar berbagsa dan bernegara yang dimaksudkan. Politisi senior kelahiran Jakarta, 1942, tiga tahun sebelum merdeka ini sangatlah berjasa Dirinya hingga kini dijuluki sebagai bapak empat pilar kebangsaan. Ide dan pemikirannya yang brilian tersebutlah yang menjadikannya senantiasa panjang umur.

Empat pilar berbangsa dan bernegara  tersebut adalah:
  1. Pancasila,
  2. Undang-Undang Dasar 1945,
  3. Negara Kesatuan Republik Indonesia dan
  4. Bhinneka Tunggal Ika.
Kendati begitu indahnya penggabungan empat pilar di atas, beragam kritikan terhadap empat Pilar tersebut, sebab oleh sebagian besar orang menilai hanyalah sekedar slogan politik belaka marak mencuat keranah publik. Implementasi dan korelasi antara keduanya tidaklah memiliki kesamaaan kekuatan. Demikian pernyataan kritikan itu memang cukup berdasar atau sangatlah fundamental dengan semakin kisruhnya negara dibawa kendali pemimpin yang kurang tegas. Diskriminasi dan sabotase sebagai akibat dari kepentingan orang-orang yang memiliki kekuasaanlah menjadi dasar pemikiran dari beragam kritikan-kritikan.

Bukan apa dan juga bukan karena siapa, namun, mengapa ? Masikah ada mereka memiliki pemikiran yang pantas untuk dicontoh. Ahklak mereka apakah begitu rendahnya, tentunya tidak. Berlandaskan pengamatan melalui indera pengelihatan mereka tampil dengan rapinya, menggunakan atribut-atribut tertentu yang memberikan sinyal dan pertanda bahwa inilah saksi bila saya berbuat buruk. Akan tetapi, terlepas dari atribut-atribut oleh oknum yang berbuat dibalik daripadanya, mereka sangatlah ganas. Tidak jarang yang seharusnya mendapatkan hukuman berat atau hukuman mati sekalipun.

Andaikan saja negara ini memiliki hukum kuat tentang hukuman mati, maka saya berpikir sesungguhnya sudah banyak yang seharusnya mendapat hukuman tersebut. Rakyat yang tidak memahami cara bermain mereka-mereka dijadikan tumbalnya. Betapa tidak hanya dengan secuil imbalan mereka dimanfaatkan. Kepentingan, kekuasaan, gengsi dan wanita menjadi incaran utamanya tak perduli seberapa buruknya mereka berbuat selama tidak ketahuan.

2. Tujuan Penulisan
  1. Untuk mengkaji sejauh pemahaman tentang kaitan antara Kakawin ramayana sarga III. Sloka 63   dengan empat pilar berbangsa dan bernegara.
  2. Agar menjadi pengetahuan bahwa pentingnya memahami perkembangan negara dari kemasa kemasa.
  3. Agar mampu melakukan pengkajian dan penerapan Arti dari Kakawin ramayana III.63.
3. Rumusan Masalah
  1. Apa Arti dari kakawin Ramayana III.63
  2. Apakah Makna Kakawin Ramayana III.63 ?
  3. Bagaimana penerapan konsep 4 pilar berbangsa dan bernegara saat ini ?
  4. Seperti apa korelasi antara makna kakawin ramayana III.63 dan penerapan 4 pilar kebangsaan?

BAB II PEMBAHASAN

1. Apa Arti dari kakawin Ramayana III.63

Epos Ramayana, bukanlah sebuah dongeng belaka ataupun hanyalah cerita rakyat yang dituangkan dalam berbagai seni rupa, tarian ataupun kesenian lainnya. Akan tetapi, merupakan suatu warisan dunia yang diperuntuhkan untuk semua bangsa di belahan dunia ini, sebegitu luar biasanya bahkan mampu mempengaruhi kehidupan manusia selama peradaban ini. Bahkan sebelum kehidupan ini dimulai. Sosok Rama dan Laksamana, dua tokoh besar dalam kisah tersebut telah mampu menyihir kehidupan semenjak miliaran tahun lamanya. Siapa sesungguhnya Rama dalam kisah ini, tak dapat dijelaskan dengan kata-kata manusia sederhana seperti ini. Pengetahuan spritualitas dengan tekun sekalipun tak akan mampu menjelaskannya.

Lahir dikalangan bangsawan tak pelak membuatnya begitu dikenal disepanjang garis kehidupan sejak lamanya. Namanya hanya terdiri atas empat huruf “Rama” yah begitulah Ia disapa. Keteguhan hatinya loyalitasnya sebagai sosok ksatria telah mengantarkannya pada kemasyuran yang tiada tara.

Adakah sosok pemimpin masa yang akan dating, demikian seperti sosok Rama. Sepertinya bukanlah perkara mudah.
Berikut salah satu Kekawin dalam kisahnya yakni:

Kekawin Ramayana. Sarga III.Sloka 63

“Sangkaning wruh aji ginego
Nitijina care kapuhara
Pandya acarya dwija pahayun
Gengentatah tikanangasih “.

Artinya :

Asal kepandaian itu ialah karena pengetahuan dipatuhi
Kebijaksanaan membawa sikap prilaku
Para sarjana, para guru dan para pendeta supaya dihormati
Besarkan olehmu kasih sayang itu


2. Apakah Makna Kakawin Ramayana III.63 Beragam sudut pandang dapat muncul kaitannya dengan kekawin diatas, tak terkecuali bila dikaitkan dengan kehidupan saat ini. Khusus untuk pembahasannya akan dibagi atas empat garis besar, berdasarkan baris dari sloka kekawin Ramayana III.63 ini.

“Asal kepandaian itu ialah karena pengetahuan dipatuhi”. Pada mulanya para ahli berpandangan bahwa agama tidak memiliki sangkut paut dengan ilmu pengetahuan. Namun, kekawin ini membuktikan dengan caranya sendiri, ini berarti anggapan tersebut tidaklah seratus persen benar. Adapun makna dari baris pertama ini ialah bahwa kepandaian ataupun yang namanya keceradasan dan atau dalam bahasa trennya intelektual itu hanya dapat diperoleh melalui keteguhan dan patu terhadap ilmu pengetahuan itu sendiri. Bayangkan berapa orang yang berhasil menyerap pengetahuan yang diajarkan dengan cara yang tidak patuh. Dibandingkan bila merapatkan barisan dan menyiapkan diri untuk segala konsekuensinya dengan harapan pengetahuan yang diinginkan dapat terserap sempurna.    
“Kebijaksanaan membawa sikap prilaku” Kebijaksanaan hanyalah sebuah untaian kata, artinyalah yang begitu dalam. Orang-orang yang bijaksana adalah mereka yang mampu memilih dan memilah beragam informasi, letak baik dan buruknya mereka mampu mengetahuinya. Pernakah Anda mendengar orang-orang mengatakan kata-katamu mencerminkan kualitasmu. Bahwa pengetahuanmu hanyalah sebatas pandanganmu dan pandanganmu hanyalah sebatas cakrawalamu. Beranjak dari pengantar tersebut dapat ditarik makna dari baris kedua ini adalah, bahwa kebijaksanaan tidak dapat diukur dengan alat ukur sedetail sekalipun. Namun, hanya dapat diketahui melalui perilaku dan perbuatan seseorang, bahkan sebagian besar orang-orang kebijaksanaannya  sekalipun tidak terpengaruh dengan berapa tingginya pendidikan yang dimiliki. Cara pandang dan tindakannyalah yang menjadi kunci utamanya 

“Para sarjana, para guru dan para pendeta supaya dihormati" 
3. Bagaimana penerapan konsep 4 pilar berbangsa dan bernegara saat ini


Popular Posts